Air Mata Guru SM-3T Aceh

Air Mata Guru SM-3T Aceh

Mentari begitu indah pagi itu, selesai shalat subuh, suasana dingin masih sangat menusuk ke sela-sela pori-pori kulit ini, waktu disini (Kalimantan) berjalan lebih cepat dengan kampung halamanku (Aceh) satu jam lebih cepat. Seperti biasanya setelah shalat subuh aku tidak tidur lagi, menunggu datangnya cahaya sinar matahari yang selalu menungguku untuk tersenyum bahagia, ia aku bahagia jika pagi sudah tiba, jujur aku sangat membenci malam disini, betapa tidak kesendirianku disini jadi saksi, malam gelap gulita hanya ditemani sebatang lilin yang menyala setiap malam yang hanya terbatas hingga empat jam saja, tanpa lampu, tanpa listrik, kadang tanpa sinyal HP, siapa yang tidak membenci malam seperti ini. SD 10 Moro Behe 1, sebuah sekolah di Kecamatan Meranti, dusun Moro Behe 1 jadi saksi akan kesetianku menemani sekolah ini setiap malam, ya aku disini sendiri, aku sedang bertugas dalam program SM-3T, Sebuah program dari kementrian pendidikan yaitu Sarjana mendidik didaerah Terluar, terdepan, Tertinggal. Aku ditugaskan di sekolah ini untuk mengajar selama setahun kedepan. Untuk mencerdaskan anak bangsa di pedalaman Kalimantan Barat ( Kabupaten Landak).

Ketika Meninggal kan Siswa/Siswiku

Pagi itu, suasana belum terlalu cerah, handphone ku berbunyi, kulihat ternyata seorang teman sedang menelpon aku, segera aku angkat dengan senangnya karna ada kak Lia kawan satu tugas menelpon, segera aku angkat dengan senang hati, saat aku mendengar suara di HP pagi itu, suara yang ngomong terbata-bata , diiringi dengan isak tangis kecil, hatiku tersentak mendengar isak tangis itu, segera kutanya kenapa kakak, lalu terdengar suara dari kak lia Kepee dia memanggil, ya itu nama panggilan ku yang sering mereka panggil, lalu dia mengatakan.

“Kepee, ayah Vira meninggal” sambil menangis….
“Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun” itu kata-kata yang bisa aku ucapkan.

Ceria berubah duka pagi itu, seakan detak jantungku berhenti mendengar kabar duka itu, seorang teman guru SM-3T yang bertugas di SMP 1 Meranti, orang tuanya meninggal dunia, Ya Allah dalam hatiku, aku menjadi lemah tak berdaya, seakan tidak percaya jika secepat ini orang tua kawan kami diambil oleh Yang Maha Kuasa, aku menangis, air mataku mengalir tanpa kompromi, tubuh ini seakan rapuh tak berdaya, saat itu aku memposisikan diri seperti kawan yang sedang merasakan duka, rasanya hancur. Bertugas jauh dari kampung halaman karena mengikuti Program SM-3T, orang tua kami dipanggil saat kami berada jauh dari keluarga, Ya Allah, Ucapku sambil terduduk lesu, inikah cobaan yang Engkau berikan terhadap kawan kami Vira, Engkau mengambil orang tua yang sangat dia sayangi, saat dia sedang menjalankan tugas mulia ini, seakan hari itu aku yang mengalami musibah itu, sangat terasa dalam benakku. Aku Cuma bisa berkata ketika itu Ya Tuhan kuatkanlah kawan kami yang sedang engkau coba.

            Hari itu juga segera aku bergegas untuk mengunjungi tempat tugas kawan aku yang sedang berduka, yang berjarak satu jam dari tempat tugas saya ke tempat tugas dia dan menghubungi beberapa kawan terdekat untuk segera ketempat kawan kami yang sedang berduka, untuk melihat keadaan kawan kami yang sedang ditimpa musibah, dan kamipun bergerak menuju desa kawan kami bertugas, sekitar satu jam perjalanan kami pun tiba di rumah dia tinggal, dia tinggal disalah satu rumah warga dekat sekolah dia bertugas, saat tiba kami disana isak tangis pun tidak terbendung lagi, kawan-kawan larut dalam duka, saling memeluk Vira seorang Guru SM-3T yang ayahnya baru saja meninggal, Ya Tuhan dalam hatiku berguman, kuatkanlah kawan kami atas cobaan yang Engkau berikan, aku ingin menangis rasanya, tapi aku tetap menahannya agar air mataku tidak keluar dihadapan teman-teman SM-3T ini, sudah cukup aku menangis sendiri ketika pagi tadi.

            Vira terus mengangis, dengan duka yang dia alami, aku bisa melihat dari sudut kursi yang sedang aku singgah, aku hanya bisa diam saja melihat mereka bersedih, ya Allah apa yang harus aku lakukan (dalam hati) , jangan sampai salah satu Guru SM-3T dari kami terpuruk dalam cobaan-Mu, kami kemari demi tugas mulia yaitu demi mencerdaskan anak bangsa, mereka membutuhkan kawan kami ini dalam hatiku berkata.

Guru Muda Evira Agustina , Tertunduk Lesu Di pangkuan Temannya

            Larut dalam sedih, aku mencoba menjadi orang yang lebih dewasa kala itu, mencoba menjadi orang yang paling kuat, paling tegar, dan mencoba menjadi orang bijak, padahal pada kenyataannya hatiku sangat terpuruk dengan musibah ini, tapi aku tidak mau mereka tahu, biarkan aku pendam sendiri apa yang aku rasakan, buatku, aku harus bisa membuat yang berduka tersenyum kembali, seiring dalam duka aku mencoba mengingatkan kepada Vira, “Vira inilah Cobaan Allah”. Aku mencoba menetralkan kesedihan yang sedang dia rasakan, sambil memberi semangat, agar dia lebih kuat, kami mengatakan Allah lebih tahu apa yang dia berikan kepada kita, bersabarlah, semoga dipertemukan disurga nanti..
           
Perjalanan guru SM-3T ( Sarjana Mendidik di Daerah Terluar, Terdepan, Tertinggal ) memang sangat terasa di benak kami, cobaan mulai datang, walaupun cobaan itu terjadi pada kawan kami, tapi Kami Seluruh Guru SM-3T Aceh yang betugas dilandak kala itu, merasakan duka yang sama, inilah perjuangan kami, demi mencerdaskan anak bangsa, kami harus rela kehilangan Orang tua kami, bahkan kami tak sempat melihat orang tua kami untuk terahir kalinya.

            Seiring berjalannya waktu, kami pun bisa membuat kawan kami ceria kembali seperti biasanya, kami pun kembali dalam tugas masing-masing kesekolah terpencil, dan akupun kembali ke tempat pengabdianku di SD 10 Moro Behe 1 Kec, Meranti Kabupaten Landak. Sebuah sekolah di pedalaman kalimantan barat dimana hanya ada satu dusun disana, dan hanya memiliki sekitar 80 siswa/i. Aku tinggal didesa ini, menetap dipustaka sekolah seorang diri. Keseharianku aku habiskan untuk mengajar disekolah  ini, aku sangat bersemangat berada disekolah ini, desa ini, walaupun aku berbeda keyakinan dengan warga disini, tapi itu tidak jadi hambatan buatku untuk terus mengajarkan anak-anak desa ini, dan aku mau mereka mendapatkan pendidikan yang layak seperti dikota-kota sana. Anak-anak desa ini sangat bersemangat semenjak kedatanganku kesekolah ini, terlihat mereka mulai rajin sekolah, mulai rajin ke pustaka sorenya, mungkin karena aku menetap disekolah jadi pustaka sekolah bisa aku buka sore hari, dan mereka pun bisa belajar tambahan diluar jam sekolah.

            Moro behe adalah sebuah desa yang tidak terlalu besar mungkin hanya ada sekitar 80 KK saja, dan aku diterima dengan baik didesa ini, sebuah desa yang rukun, tentram damai, dan masih kental dengan adat istiadat nenek moyang mereka, warganya yang santun, saling peduli, memiliki toleransi agama yang baik, memiliki rasa gotong royong yang kuat. Aku bahagia disini, aku betah didesa ini, aku betah disekolah ini, hari-hari ku semakin bergairah, siswaku pun semakin rajin, warga pun sangat mendukung program apa saja yang aku laksanakkan disekolah demi kemajuan sekolah ini. Begitu juga dengan kepala sekolah yang sangat percaya apa yang aku lakukan demi pendidikan disekolah ini.

            Hari ke hari, minggu ke minggu dan bulan ke bulan, aku lalui dalam pengabdian ini. Aku bahkan serasa sudah menjadi warga Moro Behe kata Pak Kadus,

“Pak Guru, sudah mirip Orang Dayak”, katanya sambil bercanda, hehe. Mayoritas warga disini adalah suku Dayak asli, dengan bahasa Dayak “Belangin”.  Sangat jauh berbeda dengan aku yang memiliki suku “Aceh”, dan itu bukan penghalang bagiku untuk tinggal disini, mereka sangat baik terhadapku, aku terus beradaptasi dengan lingkungan ini, aku terus mengajar setiap hari, dalam benakku anak-anak disekolah ini harus yakin untuk sekolah, harus mau, harus mau belajar, itu yang ada dalam benakku, aku harus mengajar itu tanggung jawabku sebagai Guru SM-3T yang di tugaskan kedaerah ini. Dan itu bisa aku lakukan dengan tangan terbuka, dan mereka siswaku sangat menerima kedatanganku disekolah ini.

            Hampir sebulan ini kami guru-guru SM-3T sibuk dengan kegiatan masing-masing dipenempatan, hingga suatu hari kawan saya menelpon, saya lihat di Hp saya ada panggilan masuk ternyata terlihat nama SM-3T Vira di Hp saya, saya langsung mengangkat telpon tersebut, sungguh terkejut saat aku dengar suara ditelpon, dia menangis, dalam hatiku, ya Allah apa yang terjadi lagi, apa Vira mulai sedih lagi karena belum sebulan ayahnya meninggal, apa dia tidak kuat, dalam hatiku, langsung aku tanyakan kenapa menangis, dia baru bicara.

“Bang Kepee (nama panggilanku), Ayah kak Lia “Herlia” Guru SM-3T”, meninggal barusan” Aku terdiam sejenak, dan mematikan telepon.

Saat Teman-Teman Yasinan Bersama, Berdoa Untuk Almarhum Ayah Sahabat Kami

Ya Allah Engkau memberikan kami cobaan lagi, dengan mengambil orang yang kawan kami sayangi, Aku seakan rapuh, tidak bisa berjalan lagi, hari itu kebetulan aku sedang berada di kota Ngabang bersama Azhari, kami sedang dipasar, ketika itu, aku lagi-lagi terpuruk mengingat musibah yang dihadapi kawan kami, aku segera bergegas pulang ke Mess yang kami sewakan di kota Ngabang untuk berkumpulnya Guru-Guru SM-3T jika sedang turun ke kota.

            Tiba di mess ternyata beberapa kawan yang ada disana juga sudah tahu kabar duka ini, dan kami terduduk diam disudut-sudut kamar yang ada, sambil semua bersedih, bahkan aku larut dalam kesedihan yang kedua kalinya, dan aku berkata kepada kawan-kawan yang ada dimess “Allah sedang memberi cobaan kepada kawan kita” Herlia Seorang guru SM-3T yang bertugas Di SMP Meranti, padahal belum sebulan kawan kami Elvira Agustina yang ayahnya meninggal juga bertugas di SMP 1 Meranti, mereka senasib, tugas bersama tinggal bersama, dan Orang Tua Mereka juga diambil saat mereka sama-sama berada jauh dari keluarga.

            SM-3T Kembali berduka, kami segera mengunjungi tempat tugasnya kawan kami dan kerumah singgah mereka, kami hanya bisa sekedar memberikan semangat, tapi aku lihat sesampai disana, Kak LIA panggilan kami, dia adalah seorang yang sangat kuat, begitu juga dengan Vira ,  mereka sangat kuat atas cobaan yang menimpa mereka, bahkan aku sendiri tidak yakin jika itu terjadi kepadaku, aku akan sekuat mereka, ya aku tak yakin akan sekuat mereka.

            SM-3T mengajarkan kami bagaimana arti sebuah keluarga , ini terbuktinya betapa pedulinya kawan-kawan kami saat kami tertimpa musibah, mereka saling bersandar, saling memotivasi, saling menguatkan, saling menciptakan senyum yang sudah hilang.

            Mereka Dua orang Guru SM-3T “ Elvira dan Herlia” Mereka adalah dua Guru Wanita Aceh yang ditugaskan ke pedalaman Kalimantan Barat. Untuk mencerdaskan generasi bangsa, mereka sangat kuat, mereka Kehilangan Orang Tua mereka, mereka tidak sempat melihat yang terahir kalinya orang tua mereka, bahkan mereka tidak sempat mencium kening orang tua mereka untuk yang terahir kalinya, tapi mereka sangat kuat “Mereka adalah Guru Muda Perempuan hebat yang dimiliki Oleh Aceh”. Bahkan mereka sangat kuat, mereka sangat hebat, mereka tidak pernah mengeluh akan kesedihan mereka, dan aku tahu mereka terkadang dalam kesedihan tapi mereka tidak pernah mengeluh akan hal itu, mereka tidak pernah hilang semangat untuk mengajar dipedalam Kalimantan ini, itu terbukti mereka sanggup bertahan hingga akhir masa tugas. Betapa hebatnya kalian dalam mencerdaskan anak bangsa, betapa kuatnya batin kalian demi anak bangsa, betapa tulusnya jiwa mendidik kalian demi generasi penerus bangsa ini kawan..

“Kalian adalah Pahlawan Pendididikan yang Sesungguhnya kawan...”


Penulis             : Muzakkir S.Pd
Penempatan     : SDN 10 Moro Behe
SM3T Unsyiah Aceh, Penempatan Kabupaten Landak Kalimantan Barat


Komentar

  1. Perjuangan tiada batas..
    Salam MBMI.

    BalasHapus
  2. Ya Allah berikanlah kemudahan , kelancaran , kesehatan kepada teman - teman yang berjuang mencerdaskan bangsa kami, serta ilmu yg di berikan menjadi ilmu yang bermanfaat, aamiin, seemangaatt

    BalasHapus
  3. Ya Allah berikanlah kemudahan , kelancaran , kesehatan kepada teman - teman yang berjuang mencerdaskan bangsa kami, serta ilmu yg di berikan menjadi ilmu yang bermanfaat, aamiin, seemangaatt

    BalasHapus
  4. Sediih bangett...
    Jadi ingat waktu ayah kawan sm3t kami di jayawijaya juga meninggal. Bulan puasa. Ah sedih banget ingat itu. Ga bisa pulang..


    Eh tapi FYI ada temen UNIMED yg tugas di lanny jaya. Baru seminggu bertugas, ayah nya meninggal. SEKDA lanny jaya pun memberikan tiket pesawat utk pulang ke medan. Besok pagi langsung berangkat.

    BalasHapus
  5. Tuhan akan membalas semua kebaikan anda

    BalasHapus
  6. Tuhan akan membalas semua kebaikan anda

    BalasHapus
  7. salam untuk teman loen yunas sajuri yang kenak d sambas yaa
    kenal kan?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

CONTOH RUBRIK PENILAIAN KETERAMPILAN DAN PENGETAHUAN KURIKULUM 2013

TARI SAMAN MERIAHKAN PEMBUKAAN SEMINAR NASIONAL YANG DI LAKSANAKAN OLEH PPG-SM3T UNJ.

"Rindu Yang Tak Kurindukan"