IBU GURU “BREKET”
Cerita ini dimulai ketika salah satu dari teman SM-3T bertemu dengan salah satu siswa saya. Kemudian pertemuan tersebut diceritakan kepada saya selaku guru SM-3T yang mengajar di sekolah dimana siswa tersebut menimba ilmu.
“Em, tadi aku jalan-jalan ke arah tempat kau tugas tu trus aku ketemu dengan siswa kau”
“Oh ya?, siswa kelas berape?”
“Siswa kelas XI IPS 2. Aku tadi tanya dia, bagaimana ibu Emi dan ibu Ratna mengajar di kelas kamu?”
“Aku ndak ngajar kelas IPS, aku kan ngajar kimia. Itu siswanya Ratna. Trus siswa itu bilang apa kau tanya macam tu?”
“oh iye ke? Tetapi siswa itu bilang kalian berdua BREKET”
“Hah!! Apa tu breket???”
“HAHHAHAHAHA, Breket tu artinya kejam. Aku ndak nyangka kalian berdua bisa dibilang Ibu Guru Kejam. Fisik kalian tu ndak meyakinkan kalau disebut Guru Kejam. Hahahhahahhaha”
Ketika mendengar cerita tersebut saya hanya bisa tertawa. Bayangkan saja kekejaman saya sampai tersebar di kelas yang tidak pernah saya ajar. Saya merasa seperti seorang penjahat dengan julukan “IBU GURU BREKET”. Haahahaahha
Hmmm, saya sangat mengerti mengapa ada siswa yang mengatakan bahwa saya adalah “Ibu Guru Breket”. Hal itu dikarenakan saya sangat tegas terhadap siswa-siswi yang tidak displin ketika saya mengajar di dalam kelas. Setiap siswa yang tidak disiplin seperti terlambat datang ke sekolah, tidak mengerjakan PR, tidak rapi dalam berpakaian atau memakai sendal di kelas maka akan saya berikan sanksi yaitu dengan cara menyuruh mereka menuliskan nama mereka dalam buku yang saya sebut dengan “BUKU KASUS” beserta ancaman bahwa buku tersebut akan saya jadikan sebagai referensi penilaian afektif. Sejauh ini sanksi tersebut cukup efektif sehingga ketika saya masuk kelas tidak ditemukan lagi siswa yang tidak sisipkan baju atau saya akan menemukan fenomena dimana siswa-siswi berlari masuk kelas sambil berteriak “ buku kasussss!! buku kasussss!!” pada saat melihat saya berjalan menuju kelas. Sanksi lain yang saya berikan yaitu menyanyi atau berdiri di depan kelas. Sampai saat ini saya belum pernah memberikan sanksi kepada siswa dengan tindakan kekerasan seperti memukul atau menampar siswa sehingga saya pantas disebut “Ibu Guru Breket”
Tingkat kedisplinan siswa yang rendah di SMA Negeri 1 Tanjung Bunga menjadikan saya seorang guru yang breket, tetapi Gelar “Ibu Guru Breket” tidak akan menyurutkan langkah saya untuk medisiplinkan siswa saya. Saya akan terus menjadi guru yang breket terhadap siswa yang tidak disiplin. Untuk teman-teman SM-3T seperjuangan, jangan pernah takut di cap buruk ketika Anda melakukan hal yang Baik. Salam MBMI !!
Oh ya, perkenalkan nama saya Emi Yuliani Ayu. Saya ditugaskan di SMA Negeri 1 Tanjung Bunga, Kec. Tanjung Bunga, Kab. Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Saya dari LPTK Universitas Tanjungpura Pontianak.
Alumni-SM3T 2014/2015, Sekarang PPG di Universitas RIAU.
Editor Postingan.
Bang_Kepee73.
Terimakasih teman Atas Kiriman Cerita ini..
Good Luck For You..

Komentar
Posting Komentar