"SM-3T dan KELUARGA BARU"
Antara Bahagia dan Sedih
Aku masih ingat, hari itu Jum’at 28 Agustus 2015 adalah hari dimana yang aku serta 39 orang temanku yang lain tunggu agar bisa pulang ke kampungku yaitu Padang. Karena hari itu, datang dosen dari UNP untuk menjemput kami.Setelah 1 tahun berada di rantau orang yaitu Kab Pidie Jaya Aceh tempat Aku mengabdi selama setahun sebagai seorang guru SM-3T LPTK UNP tepatnya di SMPN 6 Bandar Baru Kab Pidie Jaya. Hari itu diadakan acara pisah sambut di Kantor dinas Pendidikan Kab Pidie Jaya Aceh antara SM-3T angkatan IV LPTK UNP dengan SM-3T angkatan V LPTK UNP dan Universitas Malang.. Disana terlihat wajah ceria kami karena membayangkan akan cepat bertemu keluarga di kamp ung, namun berbeda dengan anggota SM-3T angkatan V yang dari wajah mereka terpancar kesedihan karena merasakan baru pertama kali berada di rantau orang. Acara tersebut berlangsung hingga sore hari. Pada malam harinya aku dan bersama teman seperjuanganku di SMPN 6 Bandar Baru yaitu Tia Listika pergi pamitan ke rumah kepala sekolah lama yaitu pak Yusri, S.Pd dan kepala sekolah yang baru yaitu Ibu Hj. Ainol Mardhiah, S.Pd karena esok harinya adalah jadwal kepulangan kami ke Padang. Disana aku merasa bimbang antara pulang tetapi hatiku masih ingin berada disana. Setelah berpamitan, aku kembali ke kostan . Aku merasakan rasa kekeluargaan di tempat kostku, disana selama 1 tahun aku berada, aku dan temanku Tia sudah dianggap seperti anaknya sendiri. Kami memanggil mereka Abu dan Ummi.
Malam itu terlihat kesedihan diwajah mereka, dengan mata yang berkaca-kaca Ummi bertanya kepada saya “Lini, besok jam berapa berangkat dari Kantor Dinas’? (aku di panggil Lini bukan Rini) dan aku menjawab, jam 1 Ummi. Ummi berpesan, nanti kalau udah sampai di Padang, Jangan lupa sama kami, dan kalau mau pesta Pernikahan, jangan lupa undang kami, kami mau datang ke Padang .. saya langsung tersenyum sambil mata berkaca-kaca. Masih malam itu, anak gadis ummi yang tinggal di rumah bersama kami yaitu kak Susi, memberikan kenang-kenangan kepada kami sambil mata berkaca-kaca. Disanalah kami mulai merasa berat untuk pulang ke Padang.. ditambah lagi ingatan kami mengarah beberapa hari sebelumnya yaitu hari terakhir kami berada di SMPN 6 Bandar Baru. hari itu, kami ke sekolah naik “RBT “(atau kita kenal dengan ojek) karena tidak ada lagi “kereta” (sepeda motor), di sekolah kami bercengkrama dengan siswa-siswi SMPN 6 maupun SD..Karena sekolah kami seatap dengan SD. Hari itu aku terharu sampai meneteskan air mata karena ada salah seorang murid SD yang bernama Bilqis yang berlari ngos-ngosan mengejar kami (kami pulang sekolah jalan kaki yang jarak tempuhnya 6 KM) sambil berkata “buk, preh siat !“(buk, tunggu sebentar) dan kami langsung menoleh kebelakang dan berhenti. Langsung bertanya’ ada apa nak? Dia menjawab, ibu ,minta no Hp nanti Bilqis kangen sama ibu Rini dan ibu Tia. Langsung mata saya berkaca-kaca sambil menulis no Hp di secarik kertas yang ada dalam tas..kemudian kami memeluknya sambil berkata, kamu yang rajin sekolah ya,, semoga nanti ibu bisa ketemu kamu kembali..
Hari yang kami tunggupun datang, kami berdua masih sibuk berkemas barang-barang, tetapi wajah ummy dan abu sedih…sekitar jam 10, kak Sri dan Kak Nova (guru di SMPN 6) datang ke kost untuk salam perpisahan kepada kami. Wajah sedih kamipun kembali muncul.. Hari itu, makan siang kami terakhir di kost, ummy memasakkan masakan spesial yaitu gulai rusa. Memang baru kali itu aku mencicipi daging rusa. Setelah kami makan, kami bersiap-siap untuk mengangkat barang karena mobil untuk mengantarkan kami ke kantor dinas tempat kami berkumpul telah menunggu. Tetapi sedang kami bersiap, kami mendengar jeritan Abu yang berada di dapur menyebut Allahu Akbar…kami langsung berlari kea rah suara Abu, ternyata di sana abu masih memegang piring makan dan menghela nafas yang tertahan, disana kami panic, dan aku menyarankan Abu supaya dibawa ke puskesmas,,tetapi Abu menolak, dia ingin dirumah saja…dalam keadaan demikian, aku dan Tia berpikir untuk tidak ikut pulang ke Padang bersama rekan-rekan SM-3T lainnya. Tetapi Abu menyuruh kami tetap berangkat yang diantar oleh keluarga besarku disana dengan Abu tinggal sendiri di rumah…saat itu, dalam pikiranku sudah campur aduk. Jujur, pikiranku sudah tak karuan. Ketika sampai di kantor dinas, setiap kali ummy dapat telepon, aku sudah cemas.. Alhamdulillah keadaan Abu baik-baik saja. Aku bersyukur dapat keluarga yang sangat menyayangi aku di sana… semoga suatu hari nanti Aku bisa menjumpai mereka kembali...
Karya : Rini Safitri
SM3T UNP 2015, Penugasa Aceh, Pidie Jaya.
Komentar
Posting Komentar