“APAKABAR KAMU ADIKKU SAYANG ANAK PENJUAL “CENDOL”
Apa kabar kamu jagoan abang? Sudah seminggu lebih aku tak mendengar suaramu, aku sibuk dengan urusan dunia ini, tapi percayalah aku tidak juga melupakan akhirat sebagaimana pesan orang tua kita, kamu juga sibuk dengan sekolahmu dari pagi hingga siang tiba, jam dua kamu sibuk ke pasantrenmu, jam empat kamu baru pulang, dan aku tau itu waktunya kamu bermain, dan aku sengaja tidak mengganggu waktu bermainmu itu, makanya aku tidak menelponmu saat jam bermainmu adik, dan akupun masih sibuk, ketika sore aku selesai dengan urusan dunia, kamu pun sudah kembali pergi mengaji dan jam 10 malam kamu baru pulang kerumah dari tempat pengajianmu.
Ketika Mengikuti PORSENI MTQ ke Kabupaten Aceh Timur
Didampingi Guru MIN Lhok Nibong
mungkin waktumu sangat singkat untuk bermain dik, tidak sama seperti anak-anak yang lain, mungkin waktumu untuk menonton TV sangat tidak ada, karena kamu sibuk menonton Al-Qur’an, sibuk membaca Al-Quran, sibuk membetulkan bacaan ayat-ayat Al-qur”an setiap saat, sibuk menyimak kitab, sibuk menyimak surah dari ustaz-mu. Hingga jam 10 malam, dan setelah itu kamu baru pulang kerumah, ya usiamu masih 11 tahun sekarang, tapi kamu sudah banyak menghafal ayat-ayat al-quran, bahkan aku merasa dikalahkan oleh hafalanmu, walaupun demikian kamu masih sempat belajar untuk pelajaran sekolahmu untuk esok harinya, baru kamu tidur dik.
Ketika Menjadi Syech Saat Zikir Maulid Nabi Muhammad S.A.W
| Ditengan Kerumunan Orang Dewasa Lainnya |
mungkin nasibmu tidak seperti anak kecil lainnya yang masih berusia 11 tahun, disaat anak-anak lain dibiarkan oleh orang tua mereka untuk sibuk dengan dunia, tapi orang tua kamu tidak dik, mereka mengajarkanmu untuk sibuk dengan akhirat dari kamu masih kecil sekarang ini. “AKU HARUS BANGGA” karena memilikimu sebagai adik lelakiku satu-satunya, mungkin ini yang namanya “SEDARAH” dulu orang tua kita juga mendidik abangmu seperti itu, masa kecil kita lebih banyak dihabiskan untuk belajar ilmu agama, ayo kita bangga dengan ayahanda dan ibunda kita dik.
Mau Berangkat Ke Sekolah.
Mungkin menurutmu ini sangat bosan buatmu, masa nontonmu dikurangi, masa bermainmu ada, tapi tidak sebanyak masa bermain anak-anak 11 tahun seusiamu, dengan waktu yang sedikit itu kan kamu masih juga sempat bermain, mandi disungai, sehingga orang rumah mengkhawatirkanmu, tahukah kau dik? Ini juga sering aku lakukan dikala aku kecil dulu, walaupun orang tua marah-marah karna kita mandi disungai, tapi sekarang aku tau, mereka marah karena khawatir kita kenapa-napa, ya aku baru menyadari saat aku mulai dewasa, saat aku juga merasakan khawatir saat kamu menghilang sejenak untuk bermain. Adikku sayang, semoga apa yang kamu tanam dari kecil ini akan tumbuh subur hingga kamu dewasa nanti..
Saat Nya Kamu Bermain dengan waktumu
Adikku sayang, kamu semakin berkembang dengan keberanian yang kamu miliki, kepandain kamu membaca Al-qur”an, kepandain kamu dalam ilmu agama untuk anak se-usiamu, kamu mulai berselawat dimana-mana ada PIDATO besar didaerah mu, kamu seakan sudah menjadi penghibur dengan selawat yang kamu bawakan disetiap acara penting, suara-mu merdu, bagus , kata mereka yang memberitahuku melalui telp dari desa sana, bahkan orang selalu menanyakan anak siapa itu? Banyak yang menanyakan itu , ya karana mereka kadang tidak tau siapa kita, ya itu bisa dimaklumi karna orang tua kita bukan orang terkenal, bukan pejabat, bukan kepala daerah, bukan seorang ustaz, Kita hanya Seorang anak Penjaual “ CENDOL ( ES CAMPUR )” yang mangkal dikaki lima.
Keluarga Sederhana
Tapi tahukah kamu dik, abangmu yang paling bangga saat ini, mengingat anak seorang penjual cendol bisa merasakan kasih sayang orang tua, bisa merasakan perjuangan orang tua kita, mereka selalu mengajarkan agama ALLAH kepada kita, menyekolahkan kita, tanpa pernah mereka mengeluh, mereka selalu membuat abangmu yakin, jika abang bisa sukses suatu hari nanti, insya ALLAH, nanti suatu Saat Abang Akan Menulis Tentang “ BERASAL DARI KELUARGA PENJUAL CENDOL KAKI LIMA” suatu saat abangmu akan menulis Betapa Bangganya Memiliki AYAH dan IBU Seperti orang tua kita ini.
Kita kembali lagi saat orang-orang mulai membicarakanmu di desa sana, abang tersenyum saat mendengar berita itu, merasa bangga , walaupun abang belum pernah mendengar secara langsung , belum pernah melihat penampilanmu secara langsung, tapi dengan berita yang orang sampaikan, aku bisa merasakan bagaimana keberaniamu berdiri diatas panggung besar yang ditonton ratusan mata, mereka fokus melihatmu, telinga fokus mendengar suaramu.. hehehehe aku bangga.
Ini akibat aku merindukanmu, yang selisih umur 15 tahun, hehehe. Semoga kamu menjadi anak yang shaleh, menjadi kebanggan orang tua, terus belajar ilmu agama, terus sekolah, terus patuhi apa yang dikatakan orang tua, insya Allah abangmu sudah duluan merasakan petuah orang tua kita, insya Allah jalan mereka berikan sangat tepat, hingga aku bisa menjadi seperti saat ini..
Rinduku, Mufadhil.
Bersambung.
Pekanbaru 10-Mai-2016.
Komentar
Posting Komentar