Ketika Kutinggalkan Mereka Tanpa Kepastian



SDN 10 Moro Behe 1, Kecamatan Meranti, Kabupaten Landak menjadi saksi betapa pendidikan itu sangat penting. Ketika setahun yang lalu saya pernah bersama mereka dalam merajut asa untuk meraih mimpi nyata.


Setiap insan manusia berhak mendapatkan pendidikan yang layak, baik anak-anak,  dewasa maupun yang sudah senja. Desa Moro Behe I adalah sebuah desa dipedalaman kalimantan barat, tepatnya di Kabupaten Landak, Kecamatan Meranti, dimana disini telah berdiri sebuah sekolah SD lebih kurang 14 tahun yang lalu, ya 14 tahun yang lalu, mungkin saat itu saya masih sekolah kelas 5 MIN/SD, seraya saya mencoba mengingat, ya sekolah disini sudah ada, entah bagaimana sekolah ini dahulunya.

Saya adalah salah satu peserta SM-3T ( Sarjana Mendidik di daerah Terluar, terdepan, tertinggal ) asal LPTK UNSYIAH ( Universitas Syiah Kuala ) Aceh. Tahun 2014/2015, ketika itu saya ditugaskan didesa ini, tepatnya di SD N 10 Moro Behe 1, disini saya ditugaskan seorang diri untuk setahun kedepan.

Entah dari mana saya harus memulai cerita tentang sekolah ini, ketika saya mulai datang kesini pertama kali, jujur sebuah ketakutan terlintas dibenak saya, dikarenakan disini mayoritas suka dayak, ya suku dayak, siapa yang tidak tau cerita jika dayak ini adalah pemakan manusia, ya mereka pemakan manusia, tapi itu dulunya tidak dimasa sekarang ini.

Ini terbukti, mereka dengan sangat terbuka dan sangat ramah menerima saya ketika saya datang kesebuah desa kecil ini, bukan untuk jalan-jalan maupun pelarian, saya kemari datang sebagai seorang guru untuk sebuah sekolah di desa ini.

Dalam benak saya, ternayata orang dayak tidak seperti dalam cerita dahulu, mereka sangat welcome sangat ramah menerima kedatangan saya, walaupun saya berbeda agama dengan mereka.ingin saya ceritakan sedikit kalau disini 99.90 Persen warga disini NON Muslim, yang jelas berbanding terbalik dengan saya, tapi disini itu bukan menjadi sebuah masalah, agama itu adalah hak peyoritas kita masing-masing, jadi tidak menjadi hal yang harus dihiraukan maupun ditakutkan.
                              
SD Negeri 10 Moro Behe setu sekolah yang hanya Ada 2 guru PNS dan sisanya hanyalah guru-guru yang hanya tamatan SMA dan dibayar dengan uang sekolah, sekolah ini 10 tahun yang lalu hanya ada 3 kelas saja, dari  kelas 1 sampai kelas 3, saat mereka memasuki kelas 4 mereka harus ke kecamatan untuk menyambung kelas mereka, bayangkan saja bagaimana dulu mereka bersekolah ke kecamatan yang setiap pagi mereka harus berjalan kaki hingga lebih kurang 2 jam setiap hari, itu untuk pergi saja, ditambah lagi pulang, mereka harus berjalan lagi, begitu besar perjuangan anak-anak desa ini untuk sebuah pendidikan.
Tapi alhamdulillah semenjak tahun 2011 sekolah ini mendapat bantuan dari pemerintah untuk tambahan kelas, hingga menjadi enam kelas, sebuah kebahagian terutama buat orang tua murid, karna mereka tidak perlu khawatir lagi anaknnya sekolah jauh, karna sekarang disini sudah ada kelas sampai kelas 6.

Semenjak saya datang kesekolah ini saya banyak mendapat cerita bagaimana sekolah ini dahulunya, baik dari warga, guru disini bahkan dari kepala sekolah, yang mungkin kalau saya cerita tidak akan habis dalam waktu singkat.
Saya adalah seorang guru PENJASKESREK yang ditempatkan pemerintah disekolah ini, tapi tanggung jawab saya bukan hanya mejadi guru penjas saja disini, saya juga harus menjadi guru bidang studi lain, dikarnakan disekolah ini tidak ada guru yang murni bidang studi mereka. Guru lainnya guru kontrak sekolah yang kadang mereka masuk kadang kalanya mereka tidak ada kabar, jadi saya harus juga membantu pelajaran lain untuk anak-anak ini.

Menjadi guru dipedalam sini, sungguh kehormatan yang sangat mulya bagi saya, dimana saya benar-benar merasakan menjadi guru, mengajarkan mereka dari nol, membimbing setiap langkah mereka agar mereka tidak salah melangkah, sungguh sangat jauh berbeda saat saya mengajar di kota.

                                     Murid SD Negeri 10 Moro Behe I

Sebenarnya potensi siswa didesa ini sangat besar, keinginan untuk belajar sangat kuat, tapi sayangnya mereka tidak mendaptkan orang yang bisa membimbing mereka dengan baik, mereka terlantar, mereka terbengkalai, bahkan mereka tidak mendaptkan keadilan untuk belajar. Mereka semacam Anak yang punya bapak, tapi mereka tidak tau bapaknya dimana, disini kadang saya merasa sangat sedih melihat pendidikan ini.

Saya mencoba memberikan segenap kemampuan saya buat mereka untuk setahun kedepan, saya menjadi guru dari segala bidang, IPA, IPS, BAHASA, MATEMATIKA, SENI BUDAYA, dan OLAHRAGA, ya yang pastinya semampu saya, setiap hari dimana waktu  saya habiskan untuk mereka buat belajar, saya mencoba mengajak mereka untuk selalu belajar, meskipun dengan segala keterbatasan, tidak terasa bahkan saya semacam tidak mau terlepas dari mereka, saya sangat  bahagia dengan keinginan mereka untuk belajar. Mereka menjadi Murid saya, menjadi teman saya, bahkan mereka menjadi seperti adik saya sendiri.

Keinginan belajar mereka sangat kuat, mungkin itu tidak terdapat lagi dikota-kota saat ini, saya yakin. Guru adalah gudang ilmu untuk mereka belajar disini, guru adalah segalanya buat mereka, mereka sangat menghargai seorang guru, bukan hanya siswa bahkan orang tua mereka sangat menghargai guru dari anak-anak mereka, berbanding terbalik kadang dengan yang dikota, mungkin guru hanya dianggap tempat penitipan anak mereka saja, selebihnya mereka tidak mau tau.

Sebuah pengabdian yang tidak lama, bahkan mungkin saja saya tidak sempat berbuat banyak untuk membawa perubahan buat sekolah ini, tapi saya yakin saya sempat membawa mereka untuk ingin belajar kedepannya, ingin bersekolah bahkan ingin pintar, apalah daya saya hanya seorang diri menghabiskan waktu bersama mereka untuk belajar, untuk memberikan motivasi buat mereka, waktunya sangat terbatas, dan mereka tau kalau saya tidak akan lama bersama mereka, dan mereka selalu meminta kepada saya agar saya tetap disekolah ini, jangan pergi.

“Pak jangan Pergi, jangan pergi, nanti gak ada lagi guru yang mengajarkan kami” betapa terlukanya hati ini, saat mereka mebutuhkan kasih sayang pendidikan buat mereka, tapi saya harus pergi dikarenanya tugas saya hanya sebentar saja, dan saya harus rela melihat mereka menangis berlinang air mata saat saya juga harus pergi meninggalkan mereka.
Air mata yang tidak bisa terlupakan

Ketika aku tinggalkan mereka tanpa kepastian, tanpa tau harapan apa yang harus kuberikan kepada mereka, tanpa tau apakah akan ada yang menggantikan pengabdian saya, saya  cuma bisa  katakan kepada mereka , suatu masa pasti kalian akan mendapatkan guru yang lebih baik dari saya, dan saya harus pergi , tidak tau kapan saya akan kembali kesini, mungkin kalau ada umur panjang saya akan kembali saat kalian sudah sukses nanti dengan mimpi-mimpi yang sudah kalian tuliskan saat ini....

*Bersambung....
Muzakkir, S. Pd
SM-3T Angkatan IV Asal LPTK Unsyiah ACEH.
Penugasan, Kalimantan Barat, Kabupaten Landak.
Sekolah SDN 10 Moro Behe 1, Kec. Meranti.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

CONTOH RUBRIK PENILAIAN KETERAMPILAN DAN PENGETAHUAN KURIKULUM 2013

TARI SAMAN MERIAHKAN PEMBUKAAN SEMINAR NASIONAL YANG DI LAKSANAKAN OLEH PPG-SM3T UNJ.

"Rindu Yang Tak Kurindukan"